Nama :
AKRIM ALIUDIN
Kelas :
1KA29
NPM :
10111525
BUDAYA KERAJAAN SRIWIJAYA
Sriwijaya adalah kerajaan Melayu
kuno di pulau Sumatra yang banyak berpengaruh di kepulauan Nusantara.Bukti awal
mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta
Tiongkok, I-Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 selama 6
bulan.Prasasti pertama mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu
Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, Sumatra, pada tahun 683.Kerajaan ini mulai
jatuh pada tahun 1200 dan 1300 karena berbagai faktor, termasuk ekspansi kerajaan
Majapahit.Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya" dan wijaya
berarti "kemenangan".
Setelah Sriwijaya jatuh,
kerajaan ini terlupakan dan sejarawan tidak mengetahui keberadaan kerajaan ini.
Eksistensi Sriwijaya diketahui secara resmi tahun 1918 oleh sejarawan Perancis
George Coedès dari École française d'Extrême-Orient.Sekitar tahun 1992 hingga
1993, Pierre-Yves Manguin membuktikan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai
Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatra
Selatan, Indonesia).
Tidak terdapat catatan
lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya yang
terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia
modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana
Perancis George Coedès mempublikasikan penemuannya dalam koran berbahasa
Belanda dan Indonesia.Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap
"Sanfoqi", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan prasasti dalam
Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.
Sriwijaya menjadi simbol
kebesaran Sumatra awal, dan kerajaan besar yang dapat mengimbangi Majapahit di
timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum
nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum
kolonialisme Belanda.
Sriwijaya disebut dengan
berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Sanfotsi atau San Fo Qi. Dalam
bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh.Bangsa
Arab menyebutnya Zabag dan Khmer menyebutnya Melayu.Banyaknya nama merupakan
alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan.
Peta pengaruh Sriwijaya di abad ke-10
Tidak banyak bukti fisik
mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan. Menurut Prasasti Kedukan Bukit,
kekaisaran Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Çri Yacanaca (Dapunta Hyang
Sri Jayanasa). Ia memimpin 20.000 tentara (terutama tentara darat dan beberapa
ratus kapal) dari Minanga Tamwan ke Palembang, Jambi, dan Bengkulu.
Kerajaan ini adalah pusat
perdagangan dan merupakan negara maritim. Negara ini tidak memperluas
kekuasaannya diluar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian
berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Sekitar
tahun 500, akar Sriwijaya mulai berkembang di wilayah sekitar Palembang,
Sumatra. Kerajaan ini terdiri atas tiga zona utama - daerah a ibukota muara yang berpusatkan
Palembang, lembah Sungai Musi yang berfungsi sebagai daerah pendukung dan
daerah-daerah muara saingan yang mampu menjadi pusat kekuasan saingan. Wilayah
hulu sungai Musi kaya akan berbagai komoditas yang berharga untuk pedagang
Tiongkok.[12] Ibukota diperintah secara langsung oleh penguasa, sementara
daerah pendukung tetap diperintah oleh datu lokal.
Pada tahun 680 di bawah
kepemimpinan Jayanasa, Kerajaan Melayu takluk di bawah imperium Sriwijaya.
Penguasaan atas Melayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan.
[13]. Di abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di
Sumatera dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian imperium Sriwijaya. Di akhir
abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada
di bawah pengaruh Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Budha
Sailendra di Jawa Tengah berada di bawah dominasi Sriwijaya. [14]. Berdasarkan
prasasti Kota Kapur, imperium menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung,
mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan
Selat Karimata. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi
bagian kerajaan. [15]. Di masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang
terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.
Ekspansi kerajaan ke Jawa
dan semenanjung Melayu, menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan
utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi, ditemukan reruntuhan candi-candi
Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Di abad ke-7, pelabuhan Cham di sebelah
timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Untuk
mencegah hal tersebut, maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke
kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong, di awal
abad ke-8 berada di bawah kendali Palembang.[14] Sriwijaya meneruskan
dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, pendiri imperium
Khmer, memutuskan hubungan dengan kerajaan di abad yang sama.[16]
Setelah Dharmasetu,
Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode 792 sampai 835.
Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tidak melakukan
ekspansi militer, tetapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di
Jawa. Selama masa kepemimpinannya, ia membangun candi Borobudur di Jawa yang
selesai pada tahun 825.[17]
Di abad ke-12, wilayah
imperium Sriwijaya meliputi Sumatera, Sri Lanka, semenanjung Melayu, Jawa
Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Philipina.[18] Dengan penguasaan
tersebut, kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang hebat hingga abad
ke-13.[1]
Budha Vajrayana
Sebagai pusat pengajaran Budha Vajrayana, Sriwijaya menarik banyak peziarah dan
sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I Ching,
yang melakukan kunjungan ke Sumatra dalam perjalanan studinya di Universitas
Nalanda, India pada tahun 671 dan 695, serta di abad ke-11, Atisha, seorang
sarjana Budha asal Benggala yang berperan dalam mengembangkan Budha Vajrayana
di Tibet. I Ching melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi ribuan sarjana
Budha. Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan bahwa koin emas telah
digunakan di pesisir kerajaan.
Relasi dengan kekuatan regional
Meskipun catatan sejarah dan bukti arkeologi jarang ditemukan, tetapi beberapa
menyatakan bahwa pada abad ke-7, Sriwijaya telah melakukan kolonisasi atas
seluruh Sumatra, Jawa Barat, dan beberapa daerah di semenanjung Melayu.
Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan Sriwijaya sebagai
pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya
atas setiap kapal yang lewat. Palembang mengakumulasi kekayaannya sebagai
pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, Melayu, dan
India.
Kerajaan Jambi merupakan kekuatan pertama yang menjadi pesaing Sriwijaya yang
akhirnya dapat ditaklukkan pada abad ke-7 dan ke-9. Di Jambi, pertambangan emas
merupakan sumber ekonomi cukup penting dan kata Suwarnadwipa (pulau emas)
mungkin merujuk pada hal ini. Kerajaan Sriwijaya juga membantu menyebarkan
kebudayaan Melayu ke seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Kalimantan bagian
Barat. Pada abad ke-11 pengaruh Sriwijaya mulai menyusut. Hal ini ditandai
dengan seringnya konflik dengan kerajaan-kerajaan Jawa, pertama dengan
Singasari dan kemudian dengan Majapahit. Di akhir masa, pusat kerajaan
berpindah dari Palembang ke Jambi.
Pada masa awal, Kerajaan Khmer juga menjadi daerah jajahan Sriwijaya. Banyak
sejarawan mengklaim bahwa Chaiya, di propinsi Surat Thani, Thailand sebagai ibu
kota terakhir kerajaan, walaupun klaim tersebut tak mendasar. Pengaruh
Sriwijaya nampak pada bagunan pagoda Borom That yang bergaya Sriwijaya. Setelah
kejatuhan Sriwijaya, Chaiya terbagi menjadi tiga kota yakni (Mueang) Chaiya,
Thatong (Kanchanadit) dan Khirirat Nikhom.
Sriwijaya juga berhubungan dekat dengan kerajaan Pala di Benggala, dan sebuah
prasasti tertahun 860 mencatat bahwa raja Balaputra mendedikasikan seorang
biara kepada Universitas Nalada, Pala. Relasi dengan dinasti Chola di India
selatan cukup baik dan menjadi buruk setelah terjadi peperangan di abad ke-11.
Masa keemasan
Setelah terjadi kekacauan perdagangan di Kanton antara tahun 820 - 850,
pemerintahan Jambi menyatakan diri sebagai kerajaan merdeka dengan mengirimkan
utusan ke China pada tahun 853 dan 871. Kemerdekaan Jambi bertepatan dengan
dirampasnya tahta Sriwijaya di Jawa dengan diusirnya raja Balaputradewa. Di
tahun 902, raja baru mengirimkan upeti ke China. Dua tahun kemudian raja
terakhir dinasti Tang menganugerahkan gelar kepada utusan Sriwijaya.
Pada paruh pertama abad ke-10, diantara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya
dinasti Song, perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama Fujian,
kerajaan Min dan negeri kaya Guangdong, kerajaan Nan Han. Tak diragukan lagi
Sriwijaya mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini. Pada tahun 903, penulis
Muslim Ibn Batutah sangat terkesan dengan kemakmuran Sriwijaya. Daerah urban
kerajaan meliputi Palembang (khususnya Bukit Seguntang), Muara Jambi dan Kedah.
Kesimpulan
Sriwijaya adalah
kerajaan Melayu kuno di pulau Sumatra yang banyak berpengaruh di kepulauan
Nusantara.Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7;
seorang pendeta Tiongkok, I-Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun
671 selama 6 bulan.Prasasti pertama mengenai Sriwijaya juga berada pada abad
ke-7, yaitu Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, Sumatra, pada tahun 683. Setelah
Sriwijaya jatuh, kerajaan ini terlupakan dan sejarawan tidak mengetahui
keberadaan kerajaan ini. Eksistensi Sriwijaya diketahui secara resmi tahun 1918
oleh sejarawan Perancis George Coedès dari École française d'Extrême-Orient.Sekitar
tahun 1992 hingga 1993. Setelah terjadi kekacauan perdagangan di Kanton antara
tahun 820 - 850, pemerintahan Jambi menyatakan diri sebagai kerajaan merdeka
dengan mengirimkan utusan ke China pada tahun 853 dan 871. Kemerdekaan Jambi
bertepatan dengan dirampasnya tahta Sriwijaya di Jawa dengan diusirnya raja
Balaputradewa. Di tahun 902, raja baru mengirimkan upeti ke China.